Wednesday, February 21, 2024
anggadateknologi@gmail.com
Edukasi

Mengapa Stres Dapat Menyebabkan Keterlambatan Menstruasi?

stress

ZULIRANTAUWATI.ID – Sobat Mbak Zuli, secara normal, siklus menstruasi wanita berlangsung sekitar 21–35 hari, dengan rata-rata 28 hari. Keterlambatan menstruasi dianggap terjadi jika siklus mencapai lebih dari 35 hari. Selain kehamilan, salah satu penyebab umum keterlambatan menstruasi adalah stres. Stres memiliki kemampuan mengganggu metabolisme hormon di seluruh tubuh, termasuk hormon yang memengaruhi siklus menstruasi.

Siklus menstruasi diatur oleh bagian otak yang disebut hipotalamus dan kelenjar pituitari. Hipotalamus biasanya melepaskan hormon pelepas gonadotropin (GnRH), yang merangsang kelenjar pituitari untuk mengeluarkan follicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon ini berperan menjaga agar siklus menstruasi berjalan normal, dan kelenjar pituitari juga merangsang ovarium untuk mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron.

Ketika tubuh mengalami stres, hormon kortisol dilepaskan. Interaksi hormon kortisol dengan hipotalamus atau ovarium dapat mengakibatkan gangguan dalam pelepasan hormon-hormon yang mengatur siklus menstruasi. Penurunan hormon estrogen dan progesteron dapat menunda onset menstruasi, bahkan dapat meningkatkan risiko amenore sekunder, yaitu ketika seorang wanita yang awalnya memiliki siklus menstruasi normal, tiba-tiba tidak mengalami menstruasi selama 3 bulan atau lebih secara berurutan.

Ciri-Ciri Keterlambatan Menstruasi Akibat Stres

Gejala keterlambatan menstruasi karena stres dapat bervariasi tergantung pada tingkat stres yang dialami, kemampuan individu dalam mengelola stres, dan sejarah siklus menstruasi masing-masing. Beberapa orang dengan stres ringan mungkin hanya mengalami keterlambatan selama beberapa hari, sementara yang lain mungkin mengalami gejala yang lebih mencolok dan keterlambatan yang lebih lama.

Berikut adalah beberapa ciri keterlambatan menstruasi akibat stres yang perlu diperhatikan:

Siklus Menstruasi Lebih dari 35 Hari: Stres berlebih dapat menyebabkan penundaan menstruasi, membuat siklus lebih panjang dari biasanya, melebihi 35 hari. Hal ini terkait dengan pelepasan hormon kortisol yang mengakibatkan gangguan pada hormon-hormon yang mengatur siklus menstruasi, seperti penurunan hormon estrogen dan progesteron.

Perubahan Suhu Basal yang Tidak Teratur: Stres dapat mengganggu siklus ovulasi, mengakibatkan perubahan suhu basal tubuh menjadi tidak teratur. Suhu basal tubuh biasanya meningkat selama fase luteal, tetapi kondisi stres dapat menyebabkan ketidakberaturan dalam perubahan ini.

Kram Perut: Siklus menstruasi yang lebih panjang dapat mengakibatkan proses peluruhan dinding rahim yang lebih lama, menyebabkan kram perut. Selain itu, stres juga dapat menyebabkan pelepasan prostaglandin, yang dapat memicu kontraksi otot rahim dan menyebabkan kram dan nyeri perut.

Perubahan Suasana Hati: Perubahan suasana hati, seperti rasa sedih, marah, dan cemas, dapat terjadi akibat stres yang meningkatkan kadar hormon kortisol dan berkontribusi pada keterlambatan menstruasi.

Perubahan Nafsu Makan: Keterlambatan menstruasi dapat memengaruhi nafsu makan. Stres dapat menyebabkan peningkatan atau penurunan nafsu makan, yang dapat berkontribusi pada perubahan berat badan dan pola makan yang tidak sehat.

Perdarahan yang Lebih Banyak saat Menstruasi: Kadar hormon estrogen dan progesteron yang tidak seimbang akibat stres dapat menyebabkan perdarahan yang lebih banyak saat menstruasi.

Penting untuk diingat bahwa respons tubuh terhadap stres dapat bervariasi, dan keterlambatan menstruasi tidak selalu disebabkan oleh stres. Jika ada kekhawatiran atau gejala yang persisten, sebaiknya berkonsultasi dengan profesional kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut. (Mbak Zuli)

Zuli Rantauwati Caleg DPRD Nganjuk Dapil 1 Partai PKB
Zuli Rantauwati Caleg DPRD Nganjuk Dapil 1 Partai PKB

Leave a Reply